Opini

Bagaimana Menyikapi Berita Hoax di Ruang Publik?

Ilustrasi, Foto: Pusat Informasi Anti Hoax (piah.com)

PIAH.COM – Kita lihat pemberitaan bohong didominasi di berita sosial/internet, karena Internet adalah salah satu kebutuhan masyarakat yang tidak mengenal strata, dari anak-anak hingga orang dewasa pada umumnya memiliki HP dan sudah menjadi suatu kebutuhan, sekaligus menggunakan internet.

Internet mudah didapat dimana-mana, baik sebagai sarana hiburan, pendidikan, informasi maupun sarana komunikasi. Internet mempunyai dua sisi yang bisa saling bertentangan. Di satu sisi, internet memungkinkan kita untuk mengeksplorasi dan bertukar pengetahuan.

Di sisi lain, internet sebagai saluran informasi untuk menyampaikan informasi baik perorangan maupun pesan dari kelompok kepada kelompok lain. Lalu bagaimana dengan informasi bohong yang belakangan ini membanjiri masyarakat kita lewat pergaulannya di media sosial.

Kabar bohong yang gencar sekali belakangan ini tidak terasa ditunjukan untuk mengolok-olok kecerdasan masyarakat. Lebih dari itu, dengan mudah kita mencium berita tersebut sebagai alat propaganda dan provokasi politik di dalamnya. Bahkan tidak sedikit kabar bohong dan informasi menyesatkan itu dibumbui dengan sikap kebencian.

Masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi dari orang atau graup yang diikuti melalui Facebook, Twitter dan YouTube. Indonesia, dewasa ini tengah dilanda wabah informasi hoax. Adanya informasi-informasi hoax ini, menyebabkan adanya kegaduhan ditengah-tengah masyarakat yang notabenya mengharapkan suatu informasi yang falid, apa yang sebenarnya terjadi pada lingkungan kita.

Media sosial yang seharusnya menjadi sarana untuk menyerap informasi positif yang mencerdaskan telah banyak didistorsi oleh kelompok-kelompok yang tak bertanggung jawab, dengan menjadikanya sebagai ruang untuk doktrinasi dan menebar kebencian. Tak jarang, informasi yang muncul di media sosial adalah informasi-informasi yang tidak jelas sumbernya.

Sebagai media informasi, media massa sebenarnya memiliki fungsi memberikan informasi dan edukasi pada publik. Sejalan dengan perkembanggan teknologi digital yang mudah diakses dengan cepat penyebaranya kepada masyarakat, tentunya banyak digunakan oleh kelompok tertentu untuk dijadikan suatu momen alat propaganda menyerang lawanya, dengan penyebaran berita hoax.

Secara tidak langsung ia telah meruntuhkan nilai-nilai jurnalistik dan dunia kewartawanan. Padahal dalam Undang-Undang No.40 Tahun 1999 Pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa, pers nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan, dan kontrol sosial. Artinya, sebagai salah satu pilar demokrasi, media massa memiliki kewajiban untuk memberikan pencerahan pengetahuan kepada masyarakat. Sehingga masyarakat lebih cerdas dan melek informasi.Namun demikian, merebaknya wabah informasi hoax dewasa ini, telah mencoreng kemuliaan fungsi dari media tersebut.

Harus diakui bahwa kehadiran media massa terutama media online dewasa ini telah menciptakan keresahan masyarakat. Publik cenderung kesulitan membedakan media online yang memiliki kredibilitas dan payung hukum jelas dan yang tidak. Karena kehadiran media online di media sosial begitu pesat.

Akibatnya para pengguna media sosial dengan mudah meng-share berita-berita yang muncul tanpa melakukan kroscek dan filter apakah informasi yang diterima benar atau tidak. Dalam situasi yang demikian inilah maka anak bangsa akan mudah terjangkit wabah informasi hoax.

Merebaknya kabar bohong atau hoax dikhawatirkan banyak pihak akan berdampak destruktif terhadap masyarakat. Selain membodohi, hoax dapat memicu konflik-konflik sosial baru. Tetapi usaha untuk memberantasnya juga tidak akan mudah. Tapi belakangan ini hoax bisa dikemas dengan cara yang sangat halus, disertai data yang seolah-olah benar.

Kalau begitu, apa pembaca biasa juga bisa membedakannya? Jadi hoax itu memang selalu berkaitan dengan isu yang aktual. Berita hoax ini memang didesai sesuain dengan kebutuhan kelompok tersebut dan mengikuti isu-isu yang sedang berkembang, sehingga publik terlena dengan perkembanggan isu seolah olah berita itu benar/sohe.

Tapi sekarang era media sosial. Kondisinya beda. Sekarang kita berada pada era media kedua. Ini beda sekali dengan era media pertama: televisi, surat kabar, majalah. Itu media-media lama, di mana yang berkuasa hanya segelintir orang. Tapi sekarang era media sosial, jadi pemikiran yang cepat dan emosional seperti tidak masuk akal. Kalau kita tidak suka dengan pemerintah, tinggal tulis saja di media sosial. Dalam era media sosial, setiap orang bisa memiliki media yang mewakili diri dan pemikirannya sendiri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top