Edukasi

Hilal Dalam Sains-Astronomi di Indonesia serta Prediksi Awal Ramadhan

Foto: Istimewa

PIAH.COM – Seperti biasanya jika memasuk bulan suci Ramadhan berbagai spekulasi mengenai kapan hari itu datang tepatnya awal bulan Ramadhan menjadi perbincangan hangat mengingat mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam.

Perhitungan penetapan tanggal masehi yang berlandaskan hasil pengamatan astronomi, menjadi salah satu dasar keyakinan dalam mewujudkan hilal agar dibuktikan secara hisab dan rukyat.

Mengulas Hilal berdasarkan Fase Bulan

Membahas mengenai hilal, maka erat juga kaitannya dengan fase-fase bulan. Menurut Cecep Nurwendaya sebagai anggota Badan Hisab Rukyat Kemenag RI dari Planetarium Jakarta, terdapat lima fase bulan berdasarkan penglihatan dari bumi.

Bulan baru atau new moon atau ijtimak merupakan fase pertama dimana bulan tidak terlihat di sepanjang malam. Kemudian fase berganti pada bulan sabit setelah bulan baru atau ada juga yang menyebutnya sebagai hilal. Fase ketiga bulan separuh kuartil pertama, yang menghadap ke Barat setelah maghrib yang kemudian berubah ke fase baru yaitu bulan besar.

Menjelang akhir bulan, tampak bulan sabit tipis yang disebut sebagai bulan tua. Berkaitan dengan fase terakhir ini, ada yang mengatakan bahwa bulan tersebut bukanlah hilal tetapi bulan tua atau juga dikatakan sebagai bulan tersembunyi. Hal tersebut karena bulan hanya tampak sedikit dari seluruh bagian bulan. Apa yang membedakan antara hilal dengan bulan tua?

Terdapat beberapa istilah yang digunakan di Indonesia dalam menggambarkan atau menamai posisi hilal. Hilal pada umumnya berada tegak dan terlihat sebagai bulan sabit yang tipis. Namun tidak menutup kemungkinan hilal dapat berada sedikit ke atas atau berada sedikit ke bawah.

Letak hilal ini, menimbulkan adanya istilah ‘hilal agak tengkurap’ dan ‘hilal agak terlentang’. Namun hilal juga tidak mungkin berada tepat di bagian atas atau benar-benar terlihat ‘tengkurap’. Mengapa demikian? Karena hal tersebut mengindikasikan bahwa matahari berada di atas sehingga hilal tenggelam lebih dulu daripada matahari. Dengan demikian, hilal hanya mungkin tampak tegak dan hilal ‘terlentang’.

Hilal pada penetapannya dapat dilakukan melalui hisab dan rukyat. Pentingnya kedua hal tersebut, tentu juga bergantung pada pengamatan astronomi dan tak lepas dari teknologi. Untuk mencapai sebuah penetapan yang akurat, berbagai lembaga sains-astronomi di Indonesia melakukan pengamatan khusus terkait kemunculan bulan baru yang menandai hadirnya bulan Qomariah dalam Islam. Di Indonesia, pengamatan hilal ini dilakukan secara khusus oleh beberapa lembaga, antara lain BMKG, LAPAN, Planetarium, serta Observatorium Bosscha.

Hasil pengamatan ini diperoleh dengan melakukan perhitungan dan pengamatan pada hilal setiap awal bulan Qomariah, perekaman data astronomi, data terbit-terbenam matahari dan bulan, data azimuth dan elevasi harian matahari dan bulan, serta melakukan perhitungan kalender tahun masehi, Hijriah, Jawa, dan Cina.

Penetapan Hilal Dalam Ketentuan Islam

Menetapkan hilal tidak hanya didukung sains-astronomi tanpa ketentuan Islam itu sendiri. Dr. Thomas Djamaluddin selaku profesor riset astronomi-astrofisika LAPAN, menjelaskan hubungan antara hisab, rukyat, dan isbat, dalam gambaran yang sederhana. Sebuah hisab tidak akan bermakna tanpa rukyat, dimana rukyat tidak ada maknanya tanpa isbat.

Hisab hanya menghasilkan angka-angka yang tidak dapat menyimpulkan masuknya awal bulan tanpa ada kriteria rukyat. Rukyat itu sendiri menambahkan kriteria-kriteria tertentu agar hasil hisab dapat sesuai dan diperhitungkan secara tepat. Akan tetapi hasil rukyat juga perlu diberi kewenangan atau otoritas agar dapat ditetapkan dan diakui secara benar.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), menggunakan ketiga unsur tersebut dalam memaparkan hasil pengamatannya terhadap awal bulan Ramadhan. Berbeda dengan penetapan dari BMKG. Adanya potensi perbedaan pada penetapan awal Ramadhan ini juga dipengaruhi oleh adanya garis tanggal Wujudul Hilal yang menunjukkan bagian Selatan Jawa, dimana bulan sudah wujud saat matahari terbenam.

Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, pengamatan dan penetapan tanda waktu ini menjadi hal yang krusial mengingat adanya perbedaan pendapat antara satu dengan pihak lainnya. Pada akhirnya, masyarakat akan menentukan sendiri kepada pihak mana mereka percaya dan yakini. Pengamatan hilal itu sendiri akan tetap berlangsung hingga pada sehari sebelum awal Ramadhan itu secara pasti ditetapkan. (Syifa Asy Syukri)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top