Berita Hoax

[HOAX] Kecurangan Tempo Dulu, Pakai Jari Palsu Untuk Pemilu 2019

Foto : Screenshot Piah.com

PIAH.COM – Baru-baru ini tengah beredar sebuah unggahan yang memuat gambar menampilkan jari tangan palsu dan diduga menjadi cara curang ‘tempo dulu’ pada pemilu maupun pilkada. Setelah ditelusuri, informasi tersebut salah alias hoax.

Foto yang menampilkan jari tangan palsu tersebut beredar di aplikasi bertukar pesan WhatsApp dan sosial media seperti Facebook (FB). Salah satu penyebar yang mengunggah foto tersebut adalah akun FB atas nama Agniya Nurul Fadhilah. Dalam unggahannya tersebut ia juga menambahkan narasi sebagai berikut :

“Kecurangan TEMPO DULU jangan sampai terulang kembali ____ DEMOKRASI DI NEGERI KITA RUSAK LEMAH TAK BERDAYA !

SEBELUM MASUK DI HARUSKAN CEK TELUNJUK TANGAN DAN BADAN

Wajib ganti presiden
Save INDONESIA RAYA”

 

 

Unggahannya tersebut telah menuai 64 reaksi, 4 komentar, dan 429 kali dibagikan pengguna Facebook. Namun berdasarkan informasi yang dihimpun. Foto yang menampilkan jari palsu tersebut diperuntukan pada mantan Yakuza yang merupakan sebuah sindikat terorganisir di Jepang, dan tidak ada hubungannya dengan pemilu di Indonesia.

Dikutip dari Wikipedia Indonesia, Yakuza atau gokudō adalah nama dari sindikat terorganisir di Jepang. Organisasi ini sering juga disebut mafia Jepang, karena ada kesamaan dengan bentuk organisasi yang asalnya dari Italia.

Memotong jari atau yubitsume adalah ritual para Yakuza untuk menghukum diri mereka sendiri, sebagai bentuk penyesalan atau permintaan maaf. Maka dari itu banyak para mantan Yakuza yang menggunakan Jari palsu. Berikut foto yang diambil oleh penyebar hoax tersebut.

Penyebar berita hoax menambahkan narasi pada gambar yang tidak sesuai dengan konteks yang sebenarnya, tidak ada berita maupun kabar yang melayangkan berita terkait jari tangan palsu pada pemilu sebelumnya.

Komisioner KPU Jatim Choirul Anam memastikan kecurangan dengan menggunakan jari palsu mustahil terjadi. Sebab, saat pemungutan suara di TPS, sudah ada pengawasan berlapis. Penandaan mereka yang sudah menggunakan hak pilihnya tidak sekadar mencelupkan jari di tinta.

”Mereka saat masuk juga dipastikan terdaftar di DPT dan wajib membawa formulir C-6,” terang Anam.

Peluang berpindah ke TPS lain juga pupus karena persoalan DPT ganda praktis sudah terselesaikan sehingga tidak ada identitas yang tercatat di lebih dari satu TPS.

Menandai jari ke tinta pun tidak bisa asal celup. Jari harus berada di dalam tinta beberapa saat sebelum akhirnya boleh ditarik keluar. Saat mencelupkan jari, sang pemilih akan dilihat langsung oleh petugas KPPS maupun pengawas TPS.

Menurut Anam, informasi hoax tersebut pernah diproduksi pada 2014.

”Selama ini juga tidak pernah ditemukan kasus semacam itu (penggunaan jari palsu),” lanjut mantan komisioner KPU Kota Surabaya itu. (faj/piah)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top