Berita Hoax

[HOAX] Viral Video Harun Rasyid Asal Duri Kepa Tewas Dikeroyok Polisi

Foto: Istimewa

PIAH.COM – Tagar #PrayForHarunRasyid ramai menjadi perbincangan warganet di jagad Twitter sejak Sabtu (25/5/2019) dini hari.

Adapun tagar yang menempati posisi puncak daftar sepuluh besar trending topic Twitter tanah air ini berisi cuitan warganet yang mengecam aksi pengeroyokan dan pemukulan terhadap seorang remaja yang diduga dilakukan sekumpulan oknum Brimob.

Video penganiayaan seorang remaja yang diduga dilakukan polisi di dekat kompleks Masjid Al Huda, menjadi viral di media sosial dan dibagikan melalui aplikasi pesan WhatsApp pada Jumat, 24 Mei 2019.

Salah satu akun yang membaginya adalah @kingpurwa. Dalam video berdurasi 39 detik, tampak sekitar 10 orang berseragam hitam dengan membawa tameng dan tongkat, menghajar seorang remaja di halaman sebuah masjid.

Video dugaan penganiayaan seorang remaja oleh polisi beredar viral. Beberapa akun di media sosial mengatakan remaja yang dianiaya tersebut bernama Harun Rasyid, 15 tahun, asal Duri Kepa. Akun Mustofa Nahrawardaya, sempat mencuit bahwa nama remaja yang dipukuli itu adalah Harun, warga Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

“Innalillahi-wainnailaihi-raajiuun. Sy dikabari, anak bernama Harun (15) warga Duri Kepa, Kebon Jeruk Jakarta Barat yg disiksa oknum di Komplek Masjid Al Huda ini, Syahid hari ini. Semoga Almarhum ditempatkan di tempat yg terbaik disisi Allah SWT, Amiiiin YRA”

Cuitan itu sendiri telah dihapus pemiliknya, namun tangkapan layar sebelum cuitan dihapus dipakai oleh laman Portal Islam lewat artikelnya yang berjudul: “BPN: Innalillahi…Remaja yang Dianiaya Depan Masjid Al Huda Dikabarkan Mati Syahid” pada Jumat, 24 Mei 2019.

Lokasi video itu benar diambil di dekat Masjid Al Huda di Jalan Kampung Bali XXXIII, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Sebagaimana dikutip dari laman tempo.co, dipastikan sudut pengambilan video yang viral itu berada di lingkungan masjid dari Parkiran Menara Thamrin

Gedung parkir ini berada di seberang masjid. Dilihat dari sudut pandang video yang beredar, kemungkinan besar rekaman pemukulan tersebut diambil dari tempat parkir ini. Sebab, satu-satunya gedung tinggi yang ada di dekat masjid adalah Parkiran Menara Thamrin.

Dan juga ada pernyataan dari warga setempat termasuk Imam Masjid Al Huda, Tajudin, mengkonfirmasi kebenaran insiden yang terjadi dalam video yang beredar tersebut. Tajudin mengatakan, kejadian tersebut berlangsung pada Kamis, 23 Mei 2019 sekitar pukul 05.30 WIB.

Namun, dia berujar, tidak berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Dia mengaku sedang di rumah untuk sembunyi.

Menurut Tajudin, anak yang dipukuli oleh aparat berseragam hitam dalam video bukan massa aksi 22 Mei yang berunjuk rasa di depan kantor Bawaslu. Anak tersebut bekerja sebagai juru parkir di lahan kosong sekitar masjid milik Smart Services Parking.

“Dia bukan ngumpet, itu orang (juru) parkir,” kata Tajudin saat ditemui wartawan di masjid Al Huda pada Jumat, 24 Mei 2019.

Tajudin juga mengaku tidak mengetahui nama anak tersebut. Dari informasi yang diterimanya, polisi juga membawa orang lain saat kejadian di masjid itu. Salah satunya disebut pegawai perusahaan parkir.

“Yang ke bawa tiga orang: supervisor satu, anak-anak itu dua orang,” kata dia.

Berdasarkan berita yang beredar korban Harun meninggal dunia dikarenakan setelah terlibat kerusuhan di Jembatan Slipi Jaya bukan dikeroyok oleh petugas kepolisian yang viral di medsos berapa hari ini.

Seperti yang dikutip dari suara.com, Harun (15), warga RT 09/ RW 10, Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat meninggal dunia setelah terlibat kerusuhan 22 Mei di Jembatan Slipi Jaya, Slipi, Jakarta Barat, Rabu 22 Mei 2019 malam.

Harun, meninggal setelah nyawanya tak tertolong ketika dibawa ke RS Dharmais, Jakarta Barat. Almarhum Harun telah dikebumikan di TPU Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Teman sebangku sekolah Harun, Angga (14) menceritakan awal mulanya dirinya diajak oleh almarhum untuk makan di warteg. Setelah itu, Harun pun lantas mengajak dirinya untuk ikut aksi kerusuhan di Slipi.

“Harun ngajakin ke warteg, habis itu Harun ngerencanain ke sana ngajak ke sana, dia bilang ayok kita lihat di Slipi yang perang,” tutur Angga saat ditemui di TPU Duri Kepa, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Jumat (24/5/2019).

Angga mengungkapkan, saat terlibat kerusuhan di Slipi pada Rabu siang, Harun sempat mengalami luka pada bagian paha akibat terkena selongsong peluru gas air mata yang ditembakkan oleh aparat kepolisian. Angga pun lantas mengajak Harun untuk pulang kerumahnya yang berada di Kedoya, Jakarta Barat untuk mengobati luka tersebut.

Selepas magrib, Angga yang sempat menawarkan Harun untuk pulang kerumahnya justru menolak. Harun malah meminta Angga untuk kembali ke lokasi kerusuhan di Slipi.

“Abis magrib Harun saya ajak pulang enggak mau, dia bilang ‘ayuk lanjutin saja. Saya bilang terserah lu dah gua ikutin lu aja,” ujarnya.

“Udah sampai sana, motor saya belum diparkir dia udah maju duluan. Setelah itu saya masih sama dia, pas jam 10-an malam udah mencar pas polisi udah maju saya udah enggak ketemu sama dia. Dicariin udah enggak ketemu dia,” imbuhnya.

Namun saat dikonfirmasi terkait video viral penganiayaan yang diduga dilakukan oknum aparat kepolisian yang diduga korban tersebut adalah Harun, Angga memastikan hal itu tidak benar. Sebab, kejadian penganiayaan dalam video viral tersebut terjadi siang hari ketika Harus justru sedang bersama dirinya.

“Itu bukan, kurang tahu kalau itu dimana. Itu bukan Harun, kalau Harun siang masih sama saya,” ungkapnya.

Sementara itu, pada Sabtu, 25 Mei 2019 dini hari, polisi merilis identitas pria yang dipukuli di dalam video viral tersebut.

Kejadian yang dikabarkan terjadi di kawasan Kampung Bali, Jakarta Pusat ini dipastikan oleh Polri merupakan hoaks alias kabar bohong. Ia menegaskan, narasi yang beredar di medsos tidaklah benar.

Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, remaja yang dipukuli itu bukanlah Harun Rasyid, salah satu korban wafat saat kerusuhan di Ibu Kota kemarin.

“Pada kenyataannya orang yang dalam video tersebut adalah pelaku perusuh yang sudah kita amankan atas nama A alias Andri Bibir,” ujar Dedi, Sabtu (25/5/2019).

Ia mengungkapkan, Andri terpaksa ditindak secara represif oleh aparat lantaran berusaha melawan. Padahal, pemuda itu diketahui merupakan pemasok benda-benda yang digunakan massa untuk berbuat ricuh.

“Andri menyiapkan batu untuk disuplai kepada teman-temannya yang melakukan demo. Demo ini tidak spontan, artinya di-setting untuk menciptakan kerusuhan,” tandasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top