Edukasi

Inilah 5 Alasan Mengapa Orang Bisa Berperilaku Anarkis, Bahkan Sampai Tega Membunuh Orang Lain

Foto: Istimewa

PIAH.COM – Demonstrasi yang berubah menjadi kerusuhan terjadi di Jakarta pada 22 Mei lalu. Aksi unjuk rasa dimulai dengan damai di depan gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) usai Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan hasil penghitungan resmi pemilihan presiden.

Namun pada Rabu (22/5) malam, para provokator membakar mobil serta melempari batu, bom molotov, dan petasan untuk menyerang polisi. Tak tinggal diam, aparat membalas dengan gas air mata, meriam air, dan peluru karet untuk mengurai massa.

Demonstrasi massa yang berubah menjadi aksi anarkis ini pun mencoreng prinsip demokrasi Indonesia. Ajang penyampaian pendapat secara massal justru menimbulkan korban jiwa. Insiden ini pun menimbulkan tanda tanya mengapa ada orang-orang tertentu yang mudah tersulut untuk bertindak anarkis?

Dilansir dari Psychology Today, inilah 5 alasan mengapa seseorang bisa berperilaku anarkis, bahkan sampai tega membunuh orang lain.

1. Gagal mencapai tujuan

Setiap manusia yakin dirinya punya bakat dan kemampuan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Ketika tujuannya terhalang, timbul perasaan kalah dan tidak kompeten karena hasil yang diinginkan tampak mustahil untuk digapai.

Idealnya, tujuan itu dicoba untuk digapai lagi dengan cara berbeda. Namun, jika orang itu merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri atau meragukan kemampuannya sendiri, ia akan merasa frustasi.

Frustasi inilah yang pada gilirannya bisa berubah menjadi sebuah emosi. Satu pemicu saja bisa menyebabkannya bertindak anarkis bahkan sampai ingin membunuh, lantaran tujuannya tak mampu dipenuhi.

2. Kecerdasan emosional

Kecerdasan emosional atau Emotional Intelligence (EI) adalah kemampuan untuk mengenali dan mengevaluasi emosi dalam diri sendiri dan orang lain. Kemudian, pengetahuan itu digunakan untuk memecahkan masalah dan mendeteksi “ladang ranjau” dalam hidup.

Misalnya saja, orang yang sudah bisa mengembangkan EI tidak akan mengganggu seseorang yang jelas-jelas marah. Mereka pun punya strategi efektif untuk menghadapi berbagai emosi.

Sebaliknya, orang yang kerap bertindak agresif memang tidak punya kemampuan tinggi untuk mengatur emosinya. Emosi itu pun bisa tumbuh berkembang menjadi balas dendam hingga frustasi dan butuh pelampiasan untuk mengurangi tekanan emosinya.

Misalnya saja, ada orang yang meninju tembok untuk meredakan emosinya. Namun, dalam pikiran seorang pembunuh, menghilangkan nyawa orang menjadi pilihannya untuk meredakan emosi.

3. Kepuasan

Ketika mengupayakan sesuatu, pasti ada kepuasan yang diharapkan. Misalnya saja, mengunggah foto yang bagus di media sosial dengan harapan disukai dan dikomentari para pengikut. Ada juga yang membeli mobil keren agar dikagumi teman-temannya.

Apa pun motifnya, manusia pasti mengharapkan kepuasan yang nyata sebagai imbalan atas upayanya. Namun, untuk mendapat imbalan yang memuaskan, dibutuhkan waktu dan upaya yang tidak sedikit.

Meski begitu, manusia terkadang enggan menginvestasikan waktu dan upaya yang diperlukan demi mendapat hasil terbaik. Pasalnya, ia tak sabar ingin segera merasakan kepuasannya.

Berbagai hasil eksperimen penelitian menunjukkan mereka yang bisa mengendalikan diri dan sabar menunggu, bisa mencapai banyak hal dalam kehidupan. Namun, tidak semua orang bisa sabar menunggu demi hasil yang lebih memuaskan.

Bertindak anarkis atau membunuh pun dipilih untuk merasakan kepuasan secara instan.

4. Pengakuan kompetensi

Kompetensi mendefinisikan diri seseorang dan pada gilirannya berfungsi sebagai dasar pencapaian dan pengakuan. Jika tidak ada penghargaan dari orang lain, refleksi diri yang negatif akan berkembang. Akibatnya, timbul perasaan tidak mampu.

Penghargaan dan pengakuan pun bisa memberikan energi pada seseorang saat dirinya merasa kompeten. Tak hanya orang tua dan atasan kerja, pengakuan ini juga bisa datang dari penegak hukum dan media.

Pembunuh kerap digambarkan sebagai penyendiri dengan tidak adanya rasa hormat dan pengakuan dari orang lain, hingga akhirnya mereka melakukan tindakan di luar perkiraan. Begitu melakukan kejahatan, nama mereka pun diakui dunia. Pada akhirnya kebutuhan akan pengakuan kompetensi mereka didapat dengan menyakiti hingga membunuh orang lain.

5. Balas dendam

“Mata balas mata”, “gigi balas gigi”, “nyawa balas nyawa”, dan “membunuh atau dibunuh” merupakan pikiran-pikiran yang sering terlintas di benak orang yang merasa dirugikan.

Keinginan balas dendam pun bisa menjadi perilaku agresif hingga terus berlanjut sampai orang yang merasa dirugikan itu merasa sasarannya merasakan penderitaan yang sama. Perilaku ini juga bisa dalam bentuk menolong orang yang sering menolong kita atau memberi hadiah pada orang yang sering menghadiahi kita.

Namun, dalam pikiran penjahat, rasa frustasi itu harus “dipindahkan” pada orang lain. Akibatnya, untuk memuaskan balas dendam, timbul perilaku kejam, pelecehan, kekerasan, dan kemungkinan pembunuhan.

Dalam pemikiran jahat, jika sebuah aksi tidak bisa dibalas, timbul reaksi ganas dan tindakan keji karena banyak orang percaya tindakan itu bisa memulihkan ketidakadilan sosial.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top