News

Jendela Pintar Dilengkapi Sistem ‘Self-Powered’

Foto: Istimewah

PIAH.COM – Teknologi jendela pintar dikembangkan untuk mengontol cahaya. Yakni dengan cara memilah-milah warnanya sehingga mampu menghemat biaya energi untuk gedung rata-rata hingga 40 persen.

Para ilmuwan mengembangkan tipe baru dari smart window (jendela pintar), versi self-powered yang menjanjikan sebuah teknologi smart window yang murah dan mudah diterapkan pada jendela, yang berpotensi menghemat biaya pemanasan dan pendinginan ruangan. Jendela pintar ini mampu menggerakkan dirinya sendiri dengan sel surya transparan yang memanen sinar ultraviolet.

Jendela pintar umumnya membutuhkan tenaga untuk operasi, sehingga relatif rumit untuk dipasang di bangunan yang ada. Namun dengan menerapkan teknologi sel surya baru, para periset di Princeton University telah mengembangkan tipe jendela “cerdas” yang berbeda, yakni sebuah teknologi jendela pintar.

Teknologi itu versi self-powered yang menjanjikan kemudahan untuk diapliksaikan pada jendela yang ada. Sistem ini dilengkapi sel surya yang secara selektif menyerap sinar ultraviolet (UV), sehingga jendela baru benar-benar bertenaga sendiri.

“Sinar matahari adalah campuran radiasi elektromagnetik yang terdiri dari sinar UV, cahaya tampak, dan energi inframerah, atau panas,” kata Yueh-Lin (Lynn) Loo, direktur Pusat Energi dan Lingkungan.

“Kami ingin jendela cerdas mengendalikan secara dinamis jumlah cahaya alami dan panas yang bisa masuk, menghemat biaya energi dan membuat ruang lebih nyaman,” kata Loo.

Jendela pintar mengontrol transmisi cahaya tampak dan panas inframerah ke dalam bangunan, sementara tipe sel surya baru menggunakan sinar UV untuk menyalakan sistem.

“Teknologi baru ini sebenarnya pintar dalam pengelolaan seluruh spektrum sinar matahari,” kata Loo yang juga seorang profesor bidang teknik kimia dan biologi.

Loo merupakan salah satu penulis makalah dalam riset ini yang kemudian diterbitkan pada Juni lalu. Makalah tersebut menggambarkan secara keseluruhan dari teknologi tersebut dimana secara keseluruhan teknologinya dikembangkan di laboratorium Loo.

Karena sinar UV tidak terlihat oleh mata manusia, para periset mulai memanfaatkannya untuk energi listrik yang dibutuhkan untuk mengaktifkan teknologi pewarnaan.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top