Opini

Kurangnya Membaca Salah Satu Penyebab Tumbuhnya Hoax

Foto: Istimewah

PIAH.COM – Kurangnya budaya membaca menjadi salah satu penyebab cepatnya peredaran berita bohong atau hoax. perkembangan teknologi digital seperti media sosial ternyata menyebabkan minat baca masyarakat menjadi rendah. Rendahnya minat baca masyarakat tidak hanya terhadap buku yang dicetak tapi juga terhadap buku digital.

Perhatikan anak-anak hingga orang dewasa sekarang sebelum tidur chatting dulu, bangun tidur buka hp, mereka sudah dimanjakan dengan keadaan situasi digital yang pasti, turunnya minat membaca buku-buku di masyarakat dipengaruhi akan naiknya minat bercuap-cuap via media sosial baik Facebook, Twitter, Instagram atau media sosial lainnya.

Semakin tinggi hasrat berkomentar di medsos biasanya dipengaruhi hasrat membaca. Mereka biasanya malas untuk membaca berita secara menyeluruh namun langsung melontarkan komentar-komentar yang asal-asalan dan tidak mendasar.

Adapun langkah-langkah yang bisa ditempuh untuk meningkatkan minat baca masyarakat, pertama adalah memperbanyak ruang baca di tempat publik seperti Mall, tempat berkumpulnya anak-anak remaja, tempat rekreasi, taman dan mungkin pasar modern.

Langkah yang kedua adalah meningkatkan kualitas buku bacaan untuk anak-anak dan remaja agar dapat merespon sianak untuk rasa penasaran terhadap buku yang dilihatnya. Langkah yang ketiga adalah menjadikan gemar membaca sebagai gaya hidup masyarakat baik masyarakatperkotaan maupun pedesaan.

Kalau cara-cara tersebut diterapkan tentunya budaya baca di tengah masyarakat bisa meningkat sehingga masyarakat menjadi kritis danberita-berita hoax tidak akan lagi mendapat tempat istimewa di tengah-tengah masyarakat.

Untuk itu agar minat baca masyarakat meningkat maka perlu kerja keras semua pihak. Namun perlu diingat bahwa gemar membaca adalah merupakan suatu produk budaya maka untuk pembenahanya perlu waktu lama dan kerja yang terencana sifatnya jangka panjang.

Peran pemerintah menyiapkan program dan peran orang tua membimbing dan mendukung sianak agar membiasakan minat baca dari sejak dini, karena salah satu untuk melawan berita hoax adalah masyarakatnya gemar membaca buku.

Kalau masyarakatnya sudah memiliki kebiasaan membaca buku, niscaya masyarakat akan lebih kritis dan teliti terhadap berita hoax. Kami yakin masyarakat yang hobi membaca buku akan lebih kritis dan waspada dibanding orang yang tidak hobi membaca.

Kita sadari kalau dapat berita yang masuk ponsel kita tidak semuanya dibaca, hanya judul dan leadnya saja, karena yakin berita ini menarik, tanpa menyusuri literatur atau sumber beritanya kita langsung kirim lagi kepada teman, padahal berita itu hoax.

Saat ini masyarakat pengguna internet di Indonesia cenderung suka menyebarkan informasi ke orang lain tanpa lebih dulu memeriksa kebenarannya.

Penyebab kedua adalah sikap sebagian orang yang lebih senang ngerumpi ketimbang membaca. Kalau dahulu untuk ngerumpi harus saling bertatap muka sekarang bisa dilakukan secara jarak jauh. Sehingga budaya gemar ngerumpi semakin menemui sarananya.

Penyebab ketiga adalah adanya kebanggaan diri jika menjadi orang pertama atau bagian dari orang yang menyebarkan suatu berita nantinya akan menjadi berita viral. Banyak orang merasa hebat kalau jadi yang pertama menyebarkan informasi, entah benar atau tidak. Apalagi kalau nantinya berita tersebut menjadi berita viral di media sosial.

Ketika sebuah pesan singkat mendarat di ponselkita, usahakan untuk jangan langsung menyebarkannya walau isinya mungkin mengkhawatirkan atau malah menggiurkan. Ingat bahwa tidak semua hal yang kita baca di dunia maya adalah sebuah kebenaran. Jadi, jika kita menyebarkan informasi yang salah, berarti kita baru saja meneruskan berita HOAX kepada orang lain dan membuat mereka berpotensi untuk tertipu.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top