Nasional

Mahasiswa UBM Buat Tinta Berpendar dari Bakteri

Tinta Berpendar dari Bakteri. Foto: ISTIMEWAH

PIAH.COM – Sahabat Piah benda berpendar dalam gelap bukan lagi hal yang luar biasa. Lain halnya dengan inovasi mahasiswa Indonesia yang satu ini.

Sekarang banyak benda dibuat bisa berpendar dalam gelap. Mulai dari gelang, aksesori dinding, hiasan, sampai lensa kontak pun ada.

Umumnya pendar tercipta berkat unsur fosfor saat dicampurkan ke dalam bahan. Namun, kini tiga mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur berhasil menciptakan tinta bolpoin berpendar yang terbuat dari bakteri.

Tinta bolpoin berpendar memang bukan sesuatu yang baru. Akan tetapi, bahan yang digunakan para ilmuwan muda inilah yang membuatnya jadi sorotan.

Penelitian ini berawal dari masalah perangkat menulis. Kebiasaan menulis dengan bolpoin atau pensil kini hanya intens dilakukan di sekolah. Selebihnya kebanyakan orang lebih sering menggunakan komputer atau gawaimobile seperti sabak dan ponsel pintar.

Padahal, tidak dapat dimungkiri penggunaan gawai secara intens dan berkelanjutan dapat berdampak negatif pada kesehatan. Kertas dan alat tulis masih menjadi solusi terbaik jika bicara kesehatan.

Masalahnya, menulis atau menggambar menggunakan media tradisional mengharuskan pencahayaan yang cukup. Beda dengan gawai elektronik yang memiliki lampu terintegrasi sehingga tetap dapat dilihat meski kondisi sekitar gelap gulita sekalipun.

Inilah yang membuat Novia Rosa Damayanti, Renaldy Fredyan, dan Mey Yuliana kemudian berinovasi.

“Perkembangan teknologi sangat pesat, khususnya bidang elektronik seperti gadget dan ponsel pintar. Perangkat ini sangat membantu mobilitas pekerjaan manusia, seperti membaca dan menulis. Namun, pencahayaan dari perangkat tersebut bersifat radiasi yang merusak mata dan membuat mata cepat lelah,” kata Novia dikutip dari laman Tempo.co(2/8/2018) lalu.

Ia dan kedua rekannya kemudian mencoba memecahkan masalah dengan memanfaatkan sumber daya alam, yaitu melalui isolasi bakteri. Hal ini karena beberapa jenis bakteri dapat memancarkan cahaya. Bakteri ini disebut bakteri bioluminesensi.

Contoh bakteri bioluminesensi yang telah diteliti adalah genus Vibrio (V. harveyiV. fischeriV. cholera), Photobacterium (P. phosphoreumP. leiognathi), Xenorhabdus (X. luminescens), Alteromonas (A. haneda), dan Shewanella.

Potensi besar yang dimiliki oleh bakteri ini menjadikannya sebagai kandidat kuat untuk menghasilkan tinta yang bercahaya. Goresan tinta yang hasilkan akan mampu terbaca di tempat gelap, sehingga mengurangi penggunaan gawai elektronik yang menghasilkan radiasi.

Bakteri bioluminesensi dapat ditemukan pada sejumlah spesies laut. Untuk mendapatkan bakteri bioluminesensi perlu dilakukan proses isolasi, pemurnian, dan dikulturkan proses suatu sel dari suatu jaringan diambil dan ditumbuhkan pada kondisi yang terkontrol dan aseptik.

Isolasi bakteri dilakukan dengan beberapa sampel dan tempat yang berbeda. Sampel utama adalah cumi-cumi, lumpur laut, dan air laut. Sampel didapatkan dari dua tempat yang berbeda, yakni pantai utara Lamongan dan pantai utara pesisir Pulau Sempu, Kabupaten Malang.

Novia mengemukakan isolasi dilakukan dengan tiga kali pengulangan pada tiap sampel dan tiap tempat. Pengujian awal menggunakan sinar ultraviolet sebagai salah satu parameter perpendaran sampel. Lalu dilakukan pemurnian dan pengkulturan untuk menumbuhkan bakteri bioluminesensi.

Jenis bakteri yang dapat disimpulkan untuk sementara adalah photobacterium phosporium. Bakteri tersebut selanjutnya akan dikondisikan seperti cairan yang berwarna. Cairan tersebut yang nantinya dapat digunakan sebagai tinta bercahaya pada bolpoin.

Tim mahasiswa Universitas Brawijaya berharap inovasi mereka dapat membantu mengurangi penggunaan ponsel pintar. Sebab, penelitian menunjukkan,penggunaan gawai merupakan salah satu penyebab terbesar meningkatnya sindrom mata kering di Tanah Air.

Menurut laporan National Library of Medicine National Institute of Health, sekitar 60 juta orang di dunia mengalami mata kering. Sementara itu, prevalensi mata kering di Indonesia pada 2017 mencapai 30,6 persen dari jumlah penduduk.

Selain itu penggunaan gawai sampai ke tempat tidur juga memiliki dampak negatif ke anak-anak.

Penelitian tahun 2016 yang diterbitkan di jurnal ilmiah JAMA Pediatrics mengungkapkan bahwa penggunaan gawai seperti ponsel pintar sebelum waktu tidur melipatgandakan risiko tidur malam terganggu. Hal ini juga dapat meningkatkan peluang rasa kantuk yang berlebihan keesokan harinya. (den/piah)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Akurat dan Terpercaya

Pusat Informasi Anti Hoax

Jl. Prajurit KKO Usman dan Harun no 8C, Senen Jakarta Pusat


Email:
Redaksi: redaksi@piah.com
Marketing: marketing@piah.com
WhatsApp 085810008100

FOLLOW US

Copyright © 2017 PIAH.COM

To Top
Right Menu Icon