News

Penjelasan Kekecewaan Pegiat Filsafat Atas Pembusukan Filsafat Indonesia

PIAH.COM – Praktik pembusukan filsafat di Indonesia dinilai kembali marak, terutama dalam hal politik. Hal itu diungkap para pegiat filsafat dalam diskusi bertajuk ‘Menolak Pemiskinan dan Pembusukan Filsafat’ di Ruang Publik, Rabu (13/2).

Sastrawan Goenawan Muhammad yang menjadi salah satu pembicara dalam diskusi mengatakan, pembusukan yang dimaksud adalah sebuah kerusakan. Filsafat kini dalam keadaan yang terganggu.

“Karena tidak ada daya kritis, tidak ada penulisan, tidak ada diskusi. Sehingga dunia pemikiran mengalami kerusakan. Artinya tidak maju lagi, seperti membusuk,” ujarnya di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (13/2).

Cara mengatasi kerusakan filsafat, kata dia, dimulai dari hal kecil di dalam rumah. Misalnya, tidak menyaksikan tayangan televisi yang tidak menggambarkan perdebatan pikiran yang sebenarnya.

Goenawan menyebut salah satu tayangan yang berisi perdebatan banyak orang namun bukan dengan tujuan bertukar pikiran.

“Contohnya yang di Indonesia Lawyer Club itu, bukan bertukar pikiran, ngotot-ngototan. Akhirnya yang penting bukan kebenaran, yang penting adalah suara yang paling ramai. Karena itulah saya nggak pernah nonton. Maksud saya jangan menghabiskan waktu untuk bertukar pikiran (berdebat) yang bukan pertukaran pikiran. Bikin club filsafat gitu saja,” tutur dia.

Menurutnya, kerusakan filsafat terjadi sejak media sosial mulai berkembang. Media massa yang sejatinya menjadi sarana menuangkan pemikiran, kini berubah menjadi tempat bersilat lidah.

“Sudah lama sekali, saya kira 20 tahun terakhir. Bukan (fenomena) sekarang ini, dan bukan salah Jokowi. Ketika orang tidak lagi ada medium untuk bertukar menyampaikan pikiran. Dulu majalah kebudayaan itu penuh dengan isi pikiran, perdebatan, sekarang nggak ada,” tandas Goenawan.

Sebelumnya, pegiat filsafat di Indonesia menyatakan pembusukan filsafat terjadi dalam dua bentuk. Pertama, filsafat digunakan untuk menjustifikasi kepentingan politik tertentu, tanpa konfrontasi apakah hal tersebut menyumbang pada telos setiap kebijakan, yaitu kohabitasi yang berkedamaian dan kebaikan bersama.

“Kedua, filsafat dilacurkan sebagai alat untuk tujuan subsistens semata dan bukan lagi sebagai sebuah art of thinking, sebagaimana menjadi praktik para filsuf Yunani kuno,” pungkasnya. (evo/piah)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
Right Menu Icon