News

Perayaan Natal dengan Tradisi Berbeda-beda di Indonesia

Ilustrasi. Foto: Istimewa

PIAH.COM – Sebagai negara dengan 16.5 juta pemeluk Kristen dan 6.9 juta pemeluk agama Katolik Roma, hari Natal di Indonesia dirayakan dengan tradisi yang sangat berbeda-beda di berbagai daerah. Tepatnya, Selasa (25/12/2018) umat kristiani akan merayakan Natal dengan berbagai ragam dan budaya.

Di daerah-daerah dengan jumlah penduduk Kristen/Katolik yang besar, perayaan Natal diwarnai dengan ritual khusus dan makanan khas daerah setempat.

Dikutip dari berbagai sumber, Senin (24/12/2018), di kota-kota besar, kawasan pertokoan kerap dihiasi dengan pohon Natal plastik dan Sinterklas. Di Bali, perayaan Natal dirayakan dengan pohon Natal yang terbuat dari bulu ayam. Pohon Natal unik tersebut telah diimpor ke berbagai negara Eropa. Sebagian besar stasiun televisi lokal akan menyiarkan konser musik Natal dan juga perayaan Natal nasional yang diselenggarakan setiap tahun oleh pemerintah. Di samping berbagai makanan tradisional, Natal umumnya dilengkapi dengan sajian kue kering seperti nastar, kastengel, dan ‘putri salju’.

Natal di Papua ditandai dengan ritual Barapen atau bakar batu.

Di daerah Papua, setelah misa atau ibadat Natal, akan dilakukan tradisi barapen (bakar batu), yaitu ritual memasak babi untuk disantap bersama. Warga Papua memasak sayuran dan daging babi di atas batu yang dibakar dengan kayu. Cara menyalakan api pun sangat khas karena tidak menggunakan korek, melainkan menggesekkan kayu terus menerus hingga menghasilkan serbuk panas yang menjadi api.

Untuk mempersiapkan upacara barapen, para lelaki akan membuat lubang untuk menaruh batu panas yang sudah membara. Sedangkan, para wanita menyiapkan daun-daunan seperti petatas (ubi jalar), kangkung, pakis, singkong, bayam, dan pepaya. Ke dalam lubang tersebut akan dimasukkan daging babi dan dedaunan yang sudah disiapkan, kemudian ditutup dedaunan, dan dilapisi dengan batu kembali.

Lapisan ini disusun hingga tiga tingkat untuk memasak daging babi selama setengah hari. Ketika daging mulai masak, akan dihasilkan asap dan aroma daging dari lubang tersebut. Bakar batu atau barapen merupakan salah satu uangkapan syukur, kebersamaan, saling berbagi, dan mengasihi yang ditandai dengan makan daging babi secara massal.

Natal di Ambon

Menjelang perayaan Natal dan tahun baru, sebagian penduduk Ambon, khususnya yang berada di Negeri Naku, Kecamatan Leitimur Selatan menggelar upacara adat cuci negeri. Upara tersebut melambangkan pembersihan dan penyucian diri (pembebasan dosa) warga dan lingkungan setempat.

Upacara cuci negeri diawali dengan berkumpul pada rumah komunitas marga (Soa) untuk menggelar ritual adat masing-masing. Kemudian warga beramai-ramai berkumpul ke rumah adat (Baileo) sambil menyanyikan lagu dalam dalam bahasa setempat, menari dengan iringan tifa (alat musik tradisional), dan kaum perempuan membawa seserahan berupa sirih, pinang, dan minuman tradisional yang disebut sopi.[7] Hal lain yang khas dari daerah ini adalah pada malam Natal akan dibunyikan sirene kapal dan lonceng gereja secara serempak.

Natal di Yogyakarta

Di daerah Yogyakarta, perayaan Natal diwarnai dengan pertunjukan wayang kulit yang bertema kelahiran Yesus Kristus. Perayaan misa atau ibadat di Gereja dibawakan dalam bahasa Jawa halus oleh pastor atau pendeta yang mengenakan pakaian adat daerah setempat, yaitu beskap dan blankon. Seperti halnya perayaan Idul Fitri, hari Natal diisi dengan acara saling mengunjungi keluarga dan kerabat. Sebagian anak-anak akan mendapatkan amplop berisi uang dari para tetua.

Natal di Manado

Perayaan pra-natal di Manado dilakukan sejak 1 Desember di mana para pejabat pemerintah daerah akan melakukan Safari Natal, yaitu mengikuti ibadah di setiap kecamatan yang berbeda setiap harinya. Sebagian warga Manado memiliki kebiasaan untuk melakukan pawai keliling, serta mengunjungi kuburan kerabat dan membersihkannya. Rangkaian perayaan Natal akan diakhiri pada minggu pertama di bulan Januari dengan perayaan yang disebut kunci taon. Pada kunci taon akan diadakan pawai keliling dengan kostum-kostum yang unik.[8][6]

Natal di Bali

Penjor yang menghiasi jalanan di Bali menjelang perayaan Natal. Sebagian besar desa Kristen terdapat di bagian selatan Bali. Para penduduk akan mengenakan pakaian tradisional dan menghiasi jalanan dengan penjor (hiasan bambu seperti janur) yang melambangkan naga Anantaboga. Perayaan Natal di daerah Bali tidak banyak dihiasi dengan budaya Barat, melainkan lebih banyak dipengaruhi oleh budaya Hindu-Bali.

Natal di Toraja

Penduduk Toraja merayakan Natal dengan mengadakan festival budaya yang disebut Lovely December. Festival ini diisi dengan tarian massal, karnival budaya, pertunjukan musik bambu, festival kuliner, dan pameran kerajinan tangan. Puncak dari festival ini adalah kembang api dan prosesi Lettoan yang diselenggarakan pada tanggal 26 Desember. Lettoan adalah ritual mengarak babi dengan simbol budaya yang mewakili tiga dimensi kehidupan manusia. Ketiga simbol yang digunakan adalah:

Saritatolamban, berbentuk tangga yang melambangkan doa dan harapan untuk kehidupan yang lebih baik (seperti anak tangga yang selalu naik ke atas). Matahari melambangkan sumber cahaya kehidupan. Bunga tabang yang melambangkan kesuksesan dalam kehidupan warga Toraja.

Natal di Sumatera Utara

Natal dirayakan oleh suku Batak di Sumatera Utara dengan mempersembahkan hewan yang dibeli dengan uang hasil menabung bersama warga sekitar. Tradisi yang disebut marbinda ini dilakukan dengan menyembelih hewan yang melambangkan kebersamaan dan gotong royong. Jenis hewan kurban yang dipersembahkan dapat berupa babi, lembu, atau kerbau dan dagingnya akan dibagi-bagikan kepada semua warga yang telah menyumbang.[6][10]

Perayaan Natal Nasional

Setiap tahunnya, Kementerian Agama Republik Indonesia menggelar acara Perayaan Natal Nasional Republik Indonesia. Acara ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1993 atas usulan dari Tiopan Bernhard Silalahi, yang menjabat Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara pada Kabinet Pembangunan VI, kepada Presiden RI Soeharto.

Sejak saat itu, Perayaan Natal Nasional selalu digelar setiap tahun, kecuali pada 2004 dibatalkan sebagai bentuk belasungkawa atas gempa bumi dan tsunami Samudra Hindia 2004.

Sampai dengan 2013, Perayaan Natal Nasional selalu digelar di DKI Jakarta, tempat yang biasanya digunakan adalah Jakarta Convention Center. Sejak 2014, kebiasaan tersebut tidak lagi dilanjutkan oleh Presiden RI Joko Widodo.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top