Opini

Perkembangan Internet, Hoax dan Kehidupan Milenial

Ilustrasi. Foto: Istimewa

PIAH.COM – Belakangan ini, perjuangan pelbagai pihak dalam mengentas problematika kebohongan publik yang mencuat di berbagai media online, kini berdampak hampir kepada semua kalangan. Hal ini bukan tak beralasan. Apalagi, literasi digital saat ini sangat lumrah dimanfaatkan oleh oknum yang tak bertanggungjawab dalam mendefinsikan fakta secara terbalik.

Sehingga tanpa pandang usia, status, dan derajat kemapanan, gerakan yang memegang prinsip penegakan kebenaran mulai bereaksi secara luas. Bukan hanya masyarakat awam, melainkan beberapa elite partai politik pun turut serta dalam gerakan itu dengan menunggangi berbagai media aspirasi.

Dalam tatanan nasional atau tatanan kenegaraan, gerakan penanggulangan potensi ancaman terbesar via online yang sedang dihadapi oleh Indonesia, seperti Siberkreasi, mulai bersuara. Hal ini dipicu oleh ancamaan penyebaran konten negatif melalui internet seperti hoax, fake news, cyberbullying, dan online radicalism yang memang menjadi tranding topic akhir-akhir ini.

Dapat diasumsi bahwa, negara saat ini sedang berhadapkan dengan pola “pemberian pemahaman salah kaprah” kepada publik. Di kalangan cendekiawan dan akademisi saat ini pun sudah gencar menyuarakan gerakan anti pembohongan (anti hoax). Hal ini sebagai reaksi terhadap golongan yang punya kuasa, yang kerap kali merangsek masuk dengan jurus memutarbalikkan fakta kepada publik.

Di sisi lain, pernyataan-pernyataan yang tak sesuai realita acap kali terus merambat dan berimbas pada tatanan level milenial. Hal ini disebabkan karena, idealisme milenial rentan “obok-obok” menjadi wadah oportunis yang paling ideal saat ini.

Pola pikir yang sering digaungkan milenials dalam jejaring sosial perlahan-lahan menipis kadarnya. Lontaran-lontaran pernyataan tokoh-tokoh publik yang dilatarbelakangi keinginan berkuasa makin menguat.

Imbasnya, peran nalar berpikir kritis dan positif yang sering dipanen dari golongan milenial mulai pudar secara perlahan. Bahkan dapat saya katakan, tidak ada lagi wadah netral untuk menyalurkan aspirasi yang mencerahkan. Rekam jejak digital menampilkan peningkatan persentase pembohongan publik alias hoax yang cukup signifikan di tahun 2018.

Data menunjukkan persentase hoax di bulan Juli 2018 berada pada nilai 61% dalam kategori artikel dan pemberitaan. Persentase ini terus meningkat hingga 74% pada dua bulan selanjutnya di kategori serupa. Tentu saja, konten politik yang didominasi artikel seputar pemilu 2019 menjadi aliran deras yang terkena dampaknya.

Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) juga mencatat jumlah hoax meroket sejak awal tahun 2019. Tercatat sudah hampir 900 butir hoax yang dimuntahkan ke publik sejak Januari 2019 sampai Maret 2019.

Miris bukan? Literasi digital menjadi zona rawan kebohongan publik. Ini baru sebagian data yang sudah didokumentasi dan masih akan terus bertambah. Banyak aliran data yang menunjukkan secara kuantitatif perkara yang dihadapi milenials.

Peningkatan instensitas pemberitaan palsu memaparkan betapa melaratnya kemanusiaan dan objektivitas beberapa pihak tak bertanggungjawab di Indonesia. Kian hari terus berganti, pola pembohongan berkembang diiringi inovasi hoax yang terbilang ampuh.

Di lain pihak, kecendrungan milenials beralih perhatian pada media sosial dan konten-konten online, dan bisa jadi akan memperparah situasi yang ada jika milenial sendiri tidak membekali diri dengan pemahaman yang memadai. Kooptasi milenials yang pesat dalam pasar digital tentu mengharuskan adanya pembaharuan pandangan lewat konten tepat guna.

Keyakinan masyarakat modern saat ini terpusat pada media sosial, bahkan ini menjadi tolok ukur kekinian seseorang. Kemapanan demikian yang dirasakan sejauh ini bisa menjadi suatu kelemahan.

Apalagi, sebagian besar kaum milenial yang masih acuh tak acuh terhadap isu dalam masayarakat, sekali saja ia dipapar isu yang tidak benar atau berbauh radikalis, maka pemahaman akan isu salah itulah yang dibawa dan diyakini. Dengan demikian, hoax menjadi ‘auto-tersebar’.

Pepatah mengatakan, “Setiap orang ada masanya, begitupun setiap masa ada orangnya”. Hampir pasti terjadi kala orang memandang situasi dan momentum saat ini. Praktik yang terjadi akhir-akhir ini menampakkan emosi kaum milenial yang signifikan, apalagi industri digital kian bergema dengan kencangnya.

Rentetan perilaku milenials yang mendominasi dunia digital pada akhirnya diupayakan oleh pihak destroyer (perusak) untuk memanjakan persepsi milenials dengan kepalsuan. Para destroyer ini seolah-olah menciptakan fitur mutakhir dalam pemberian paham yang salah tersebut. Pelbagai platform diperdayagunakan.

Itulah mengapa banyak pihak meragukan eksistensi milenials yang kritis dan berjiwa nasionalis modern di masa depan. Sudah saatnya milenials bergerak pada alur mengentas kepalsuan publik yang sengaja diciptakan untuk kepentingan segelintir kelompok.

Sepertinya menggalang pemahaman dan idelisme bersama salah satunya untuk menangkal praktik hoax yang kian gencar diluncurkan.

Kooptasi milenials mestinya dirujuk pada dua butir peran. Pertama, milenials berperan menjadi aktor/aktris protagonis menentang berita bohong dalam ranah platform sosial. Tools semacam media sosial (medsos) mesti diberdayakan sebagaimana maksudnya, yakni media bersosisalisasi, bukan media menebar hoax sosial. Selain sebagai media produktif, wadah medsos terbuka sebagai wadah aspirasi kritis pula. Kritis terhadap segala info yang masuk juga mesti diupayakan. Bukankah itu yang dimaksudkan sebagai local genius?

Kedua, milenials mesti mampu hadir sebagai mediator yang tanggap terhadap segala bentuk kebijakan publik. Milenials hendaknya mencermati konten kebijakan yang dibuat. Dalam hal ini, positif berpikir, berbicara, dan bertindak mesti harmonis. Sebab, saat ini ada satu hal yang seolah-olah sudah menjadi ‘keharusan’ yang dipaksakan elite politik, bahwa apa yang dikatakan boleh tidak sesuai dengan tindakan. Untuk itu, milenials mesti terbuka dan peka terhadap isu yang beredar sambil terus menyandingkannya dengan pemahaman tajam dan kritis.

Upaya yang dicanangkan adalah milenials mesti menjadi batu penjuru (corner stone) dalam membasmi upaya pembohongan publik yang sudah menjamur. Referensi dan diskusi bersama hendaknya bukan menjadi sekedar agenda, melainkan ranah investasi pemikiran kritis.

Sehingga, aktivitas dunia digital yang kian hari kian maju sekaligus kian dikotori propaganda para hipokrit mampu dientas dan dilawan eksistensinya. Esensi yang perlu diingat adalah milenials menjadi agen perubahan sekaligus pelopor penegakan kebenaran dan kritis, serta beridealisme kekinian.

Dalam momentum serupa, milenials yang juga didominasi kalangan aktivis kampus dan organisasi baik lokal maupun nasional sudah harus merujuk pada gerakan digital modern pula. Demonstrasi yang membutuhkan ruang publik yang memadai sudah harus diperbaharui melalui pemanfaatan jalur yang didigitalisasi.

Pemerintah juga harus gencar dalam membangun fasilitas digital darat, laut, udara, dan langit, maka seharusnya milenials ini sudah selangkah di depan dalam rangka menghadirkan peran sebagai mediator yang tanggap terhadap segala perubahan.

Bagaimana mungkin kita mau tanggap dan kritis terhadap segala informasi dan kebijakan yang dibuat sementara kita sendiri tidak dinamis dan terlambat membendungnya. Yang terjadi malah kita membuang waktu dan tenaga untuk mengejar ketertinggalan, sementara informasi terus maju dan berkembang.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top