Edukasi

Sholat Tarawih Itu 11 atau 23 Rakaat?

Foto: Istimewa

PIAH.COM – Puasa dan salat tarawih merupakan beberapa ibadah khas Ramadan. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, istilah tarawih belum dikenal. Istilah itu baru muncul pada era sahabat, khususnya Khalifah Umar bin Khaththab.

Pada tiap malam Ramadan, mereka melakukan shalat qiyam Ramadhan dengan diselingi istirahat tiap dua rakaat yang ditutup salam. Secara kebahasaan, tarwiih berarti ‘istirahat.’

Ya, pada zaman Nabi SAW, istilah untuk ibadah ini adalah qiyam Ramadhan. Berbeda dengan puasa, qiyam Ramadhan alias salat tarawih hukumnya sunah yang sangat dianjurkan. Waktu pelaksanaannya, sesudah salat isya pada malam hari hingga terbitnya fajar selama bulan Ramadan.

Ada yang menyarankan shalat tarawih itu 11 rakaat, yakni termasuk tiga rakaat witir. Cara shalat itu adalah: tiap dua rakaat, salam, sehingga diakhiri dengan satu rakaat witir. Demikian merujuk dari buku Tuntunan Ibadah pada Bulan Ramadhan (disusun Tim Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah).

Dalam hal ini, Ustaz Abdul Somad (UAS) dalam buku 99 Tanya Jawab Seputar Shalat menerangkan. Cara “empat rakaat, empat rakaat plus tiga rakaat witir” bukanlah maksud daripada hadis riwayat Aisyah.

Hadis itu selengkapnya berbunyi. “Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, ia bertanya kepada Aisyah RA, ‘Bagaimanakah salat Rasulullah SAW di bulan Ramadan?’

Aisyah RA menjawab, ‘Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam Ramadhan dan di luar Ramadhan lebih dari 11 rakaat.

Beliau shalat empat rakaat, jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian, beliau shalat empat rakaat jangan engkau tanya tentang bagus dan panjangnya. Kemudian, beliau salat tiga rakaat.'”

Menurut UAS, hadis itu bermakna bahwa Nabi SAW salat empat rakaat, kemudian berhenti untuk istirahat, lalu salat empat rakaat lagi untuk menggenapkan tarawih.

Ada pula yang menyarankan shalat tarawih itu 20 rakaat, yakni termasuk tiga rakaat witir. Hal itu berdasarkan keyakinan, tak ada keterangan yang pasti tentang jumlah rakaat shalat tarawih yang dikerjakan Nabi Muhammad SAW.

Rujukannya kemudian perilaku para sahabat Nabi SAW dan generasi tabiin. Mengutip buku Argumentasi Tarawih 20 Rakaat: Risalah Amaliah Kaum Nahdliyin (disusun Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama Jawa Barat), Musnad Ibn al-Ja’d menyebutkan sebagai berikut.

“Mereka (para sahabat Nabi SAW) melaksanakan shalat malam pada masa Umar bin Khaththab RA pada bulan Ramadan sebanyak 20 rakaat.”

Cara shalat itu adalah: tiap dua rakaat, salam, sehingga diakhiri dengan satu rakaat witir. Dalam pada itu, ada lima kali istirahat.

Pada akhirnya, salat 11 atau 23 rakaat itu masih lebih baik daripada mereka yang tidak sama sekali shalat tarawih. Simaklah hadis Rasulullah SAW ini, “Barangsiapa yang melaksanakan qiyam Ramadhan karena keimanan dan pengharapan ridha Allah, niscaya diampuni dosanya yang telah lalu.”

Salat tarawih pun sangat dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah, baik itu di masjid maupun tempat-tempat lain yang mulia. Pasalnya, derajat salat berjamaah lebih tinggi daripada salat sendirian. Apalagi, nuansanya adalah bulan suci Ramadan ketika pahala amal ibadah dilipatgandakan oleh Allah SWT.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top