Berita Hoax

Stop Pembodohan Publik, Membongkar Hoax Receh ‘Server KPU di Hack’ dan ‘KPU Curang’

PIAH.COM – Sudah tiga hari pasca pemilu 2019 diadakan, ironisnya moment ini dimanfaatkan oleh-oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh suasana dengan hoax-hoax yang dibuat dengan menargetkan hasil suara hitung cepat atau yang biasa kita kenal dengan Quick Count.

Perlu diingat bahwa hasil dari Quick Count itu bukanlah hasil resmi dari KPU jadi sangatlah wajar jika kita boleh mempercayai hasil itu atau tidak. Tapi setidaknya marilah menghormati demokrasi yang berjalan di negara kita.

Ironisnya moment ini justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab untuk memperkeruh suasana setelah pencoblosan dengan memprovokasi melalui hoax-hoax yang hingga saat ini marak di media sosial.

Hoax-hoax yang marak beredar di media sosial dibuat oleh oknum-oknum tertentu bertemakan hasil suara hitung cepat (Quick Count) dan hasil dari proses rekapitulasi suara oleh KPU.

Maka dari itu kami Pusat Informasi Anti Hoax mencoba meluruskan atau memberi sedikit kebenaran dari hoax-hoax yang berapa hari ini memang marak di media sosial.

Salah satu contohnya hoax dibawah ini:

Fakta dan Penjelasannya :

Tangkapan layar di kiri (nomor 1) itu adalah hasil perintah PING dari program komputer bawaan yaitu Command Prompt atau dikenal CMD. Fungsi perinta PING pada CMD ini adalah untuk memeriksa koneksi jaringan yang sedang menampilkan opsi penggunaannya. Dilakukan di sistem operasi windows melalui console DOS Prompt.

Sedangkan tampilan yang kanan (nomor 2) adalah proses instalasi aplikasi pemrograman javascript yang bernama node.js dilakukan di sistem operasi teks berbasis linux. Sama halnya dengan Screenshot dibawah ini:

Bahkan para oknum-oknum tak bertanggung jawab ini membuat hoax ‘server KPU sedang dihack’ dengan menampilkan beberapa foto dilengkapi dengan narasi sedang mengawal server KPU diduga ada penyerangan terhadap server KPU itu sendiri. Seperti dibawah ini:

SEMENTARA INI PENYERANGAN CYBER YANG DAPAT DI DOKUMENTASIKAN YAKNI SERANGAN DARI USA( AMERIKA )

Posted by Hastitan Ginka Pratama on Wednesday, April 17, 2019

Fakta dan Penjelasan:

Gambar yang berada dipostingan diatas itu merupakan simulasi penyerangan atau pencurian data disetiap negara di dunia. Jika kita mengacu pada link seperti tertera pada gambar dibawah ini, kita pastikan bahwa simulasi penyerangan atau pencurian data itu merupakan hasil bentuk promosi produk dari aplikasi keamanan dari checkpoint.

Tidak hanya itu ada sebagian oknum-oknum pembuat hoax hack pasca pemilu ini dengan menampilkan screenshot atau melalui foto dan diposting di media sosial, mungkin anda pernah ketemu postingan dalam bentuk screenshot atau foto orang yang melakukan proses hacking seperti dibawah ini:

Fakta dan Penjelasannya:

Fakta sebenarnya dari gambar diatas adalah merupakan hasil screenshot dari website simulasi hacking bernama ‘geektyper’. Jika kita buka website tersebut dan menampilkannya dengan layar penuh pada jendela browser maka tidak heran tampilannya akan seperti gambar diatas. Untuk penjelasan apa itu map simulasi hacker bisa kalian kunjungi link DISINI

Lanjut ke Hoax berikutnya yaitu mengenai salah hitung hasil rekapitulasi suara oleh KPU. Hoax dan meme-meme ‘KPU Curang’ berawal dari murni human error yaitu kesalahan input data KPU (sudah diperbaiki karena ada laporan) sehingga digunakan oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab menebarkan fitnah melalui hoax dan meme-meme tersebut.

Sebelumnya diberitakan oleh laman RMOL bahwa Masyarakat di seluruh Tanah Air diminta untuk terus memantau Sistem Informasi Perhitungan Suara (Situng) milik Komisi Pemilihan Umum.

Anggota KPU RI Ilham Saputra mengatakan, masyarakat dipersilahkan untuk segera melapor jika ada ketidaksesuaian antara angka di Situng dengan C1 yang dipegang masyarakat. Hal itu menurutnya lebih baik daripada memviralkan kesalahan lalu menganggap KPU curang. 

“Silahkan laporkan kepada kami. Tapi tidak dengan cara kemudian memviralkan dan menganggap buat meme-meme KPU curang, tidak ada sama sekali seperti itu, jadi sekali lagi ini human error dan sudah diperbaiki,” katanya di Kantor KPU, Jakarta, Jumat (19/4). 

Ilham menekankan kembali agar masyarakat menyudahi dugaan buruk kepada KPU sebagai lembaga independent yang melakukan kecurangan. Dengan hal ini KPU juga akan membuka kontak laporan, sehingga masyarakat bisa langsung berkomunikasi dengan KPU.

“Jadi sekali lagi bahwa tolong kepada masyarakat, kalau mau perbaiki silahkan, kontak kami, kami akan membuat semacam kontak laporan ya, entah itu dalam bentuk WA kemudian telpon, sebetulnya telpon 24 jam sudah ada, sudah kita sampaikan kepada masyarakat, tapi jangan kemudian memberikan informasi sekaan akan KPU curang, KPU melakukan ini secara sistematis, tidak ada sama sekali,” tandasnya.

Lalu, seperti apa hoax dan meme-meme ‘KPU Curang’ yang beredar di media sosial? Contohnya seperti dibawah ini:

Fakta dan Penjelasannya:

Foto atau gambar yang diposting diatas adalah palsu alias hoax yang sudah dimanipulasi. Faktanya jika disesuaikan hasil C1 dalam foto postingan tersebut dengan data rekapitulasi suara oleh KPU di webistenya maka hasilnya akan sama persis seperti pada gambar dibawah ini:

Lalu bagaimana cara oknum si pembuat hoax memanipulasi hasil tersebut? Pusat Informasi Anti Hoax akan menjelaskannya sebagai berikut:

Pertama yang dilakukan oknum tersebut adalah dengan memanfaatkan fitur dari browser yaitu dengan memanfaatkan ‘Inspeksi’, seperti gambar dibawah ini

Kemudian oknum pembuat hoax ini akan mengubah data value dari fitur ‘Inspeksi’ tersebut, seperti dibawah ini:

Dan hasil manipulasinya sesuai dengan hasil pada gambar yang disebarkan oleh oknum si pembuat hoax tersebut sesuai gambar diatas yang kita bahas tadi.

Kemudian ada hoax hack data KPU di twitter seperti dibawah ini:

Fakta dan Penjelasannya:

Gambar yang digunakan oknum pembuat dan penyebar hoax tentang hacker KPU itu sebenarnya adalah aplikasi chat jadul dan pernah booming di masanya yaitu MiRC.

mIRC merupakan perangkat lunak berbayar untuk Internet Relay Chat atau percakapan daring yang beroperasi di sistem operasi Windows. mIRC diciptakan tahun 1995 oleh Khaled Mardam-Bey, berguna untuk berbincang antar sesama pengguna mIRC di seluruh dunia.

Kalaupun website resmi KPU tidak bisa diakses sementara waktu itu menandakan bahwa servernya dalam keadaan overload atau down. Sebagaimana yang diberitakan dilaman viva.co.id dibawah ini:

Terkait dengan tumbangnya atau down situs KPU, pengurus ID Institute Irwin Day berpendapat, insiden ini bukan pertama kalinya melanda server lembaga negara tersebut dalam masa Pemilu. Irwin mencatat sudah berkali-kali server KPU tumbang.

“Setidaknya terjadi di dua Pemilu terakhir. Ketika Pilkada serentak lalu, dan Pemilu kini,” tuturnya.

Tim ID Institute mengapresiasi KPU yang telah menambah sumber daya dengan cara menambah server dan memperbaiki jaringan, meningkatkan aplikasi baru, serta menyewa SDM profesional.

Namun demikian, menurut tim ID Institute, kendalanya terdapat pada telatnya anggaran atau ketidaksesuaian anggaran dengan kebutuhan ideal. Maka, langkah antisipasi yang dapat dijalankan KPU antara lain kurangi beban server, layanan atau server yang tidak terkait Pemilu dimatikan sementara.

Soal mengapa publik masih sulit mengakses situs KPU, tim ID Institute berpandangan ada beberapa kemungkinan.

Pertama, walau KPU sudah menambah resource, namun publik luar KPU tetap tidak tahu tepatnya seberapa besar kebutuhan KPU. Semua analisis hanya berdasarkan asumsi dan prediksi. Bisa jadi asumsi tersebut meleset, sehingga KPU tetap kekurangan resource.

Kedua, sedikitnya waktu yang tersedia. Banyak hal yang harus dikerjakan dan dilakukan sambil berjalan. Misalnya, pengetesan yang tidak cukup.

Ketiga, beberapa solusi pengamanan malah justru berbalik mengganggu kinerja, jadi harus dinonaktifkan. Keempat, animo trafik memang sedang tinggi dan mudah menjadi overload. Kemungkinan kelima, serangan yang dilancarkan penyerang berniat menjatuhkan server dengan membanjiri trafik ke server KPU, disebut serangan model Distributed Denial of Service (DDOS). Kemungkinan serangan ini terjadi dan cukup besar.

Mantan Wakil Ketua ID-SIRTII, M. Salahuddien menegaskan, “Apa pun yang terjadi dengan teknologi informasi KPU, tidak akan mengubah hasil (perhitungan) Pemilu. Karena yang down hanya server website-nya yang tidak terhubung ke sistem Situng,” ujar pria yang kini Direktur Teknis PANDI.

Jadi kami Pusat Informasi Anti Hoax mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia jangan terlalu percaya terlebih dahulu dengan postingan apapun itu di media sosial, apalagi mengenai hasil penghitungan capres dan cawapres 2019.

Alangkah baiknya kita sebagai warga negara Indonesia bersabar diri dan menunggu hasil resmi dari KPU sebagai penyelenggara pemilu pada 22 Mei 2019 nanti. Jadi sekali lagi jangan percaya apapun di media sosial yang belum tentu ada benarnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top