Informasi Publik

#StopBullying: Kasus Penganiayaan Audrey, Ini Tips Cegah Anak Lakukan Bully

#JusticeForAudrey ( Foto : Istimewa )

PIAH.COM – Kasus bully kembali terjadi, bahkan penganiayaan kali ini sangat ramai diperbincangkan oleh netizen di Indonesia, bahkan memunculkan tagar #JusticeForAudrey yang sempat trending nomor 1 di media sosial Twitter.

Yaitu kasus penganiayaan seorang siswi SMP bernama Audrey oleh 12 siswi SMA di Pontianak. Hal ini cukup memprihatinkan, sebab kasus bully adalah kasus yang sangat serius, bahkan hampir diseluruh dunia, kasus ini sangat diharamkan.

Dewan Komisioner Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan sikap prihatin dan mengecam peristiwa tersebut. Komnas PA mengatakan kasus itu tidak bisa ditoleransi oleh akal sehat.

Salah satu hal yang disoroti oleh Komnas PA dalam perilaku tersebut yakni kurangnya pengawasan dari orang tua bisa jadi memicu sifat buruk pelaku.

“Munculnya perilaku dan perbuatan sadis ini tidak berdiri sendiri. Bisa saja karena terinpirasi dari lingkungan keluarga dan lingkungan sosialnya atau terinspirasi tayangan-tayangan yang tidak edukatif. Sebab dunia anak adalah meniru yang ada di sekitarnya,” tulisnya.

 

Peran Orang Tua Sangat Penting

Beberapa waktu lalu, dr Andri SpKJ dari Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera, mengatakan bullying memang bisa menimpa siapa saja, akan tetapi tidak semua orang memiliki sifat bully dan menjadi pelaku bully.

“Seorang pelaku bully bisa kelihatan sifatnya, yakni egois, mau menang sendiri, dan sering meledek orang lain yang memiliki kekurangan,” tutur dr Andri.

Alasannya pun beragam, misalnya karena ketidaksukaan pada korban yang dianggap berbeda karena memiliki kondisi mental atau fisik yang berbeda dengan dirinya.

“Bisa jadi korban lebih cantik, atau lebih ganteng. Atau karena korban dianggap lebih bodoh atau bahkan lebih pintar,” tambahnya lagi.

Sebelumnya, Psikolog Anak dan Remaja, Ratih Zulhaqqi juga menuturkan bahwa penanam nilai positif adalah hal yang harus dilakukan menjadi kebiasaan dalam keluarga alias peran orang tua terhadap sang anak.

“Jadi keluarga harus menanamkan nilai-nilai yang memang tidak mengarahkan anak tidak menjadi kriteria pembully. Misalnya anak harus diajarkan bagaiamana cara menghargai orang lain dan menilai orang lain secara positif,” ujar Ratih.

Dengan menanamkan rasa mencintai dan menghargai orang lain, tindak bully bisa diminimalisir. Dengan kurangnya penanaman nilai tersebut, bukan tidak mungkin anak menjadi mengolok teman-temannya yang lain. (faj/piah)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top